KOTA TANGERANG, Pojok Literasi - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang bangun kolam retensi yang dilengkapi dengan sumur injeksi (dengan kedalaman lebih dari 30 meter sampai ketemu pasir kedua), sumur injeksi, sumur resapan dan biopori super jumbo, sebagai upaya dalam pencegahan krisis dan kelangkaan air.
"Konservasi air ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi semua makhluk hidup, mencegah krisis dan kelangkaan air, melindungi lingkungan dari pencemaran dan kerusakan ekosistem serta mengurangi dampak bencana seperti banjir dan kekeringan," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, Wawan Fauzi, Selasa 16 Desember 2025.
Indeks Kemampuan Pemanfaatan Lahan (IKPL) memberikan informasi kuantitatif tentang kesesuaian antara kapasitas fisik lahan dan pemanfaatannya saat ini, sehingga ketidaksesuaian bisa menjadi indikator awal degradasi lingkungan atau penurunan produktivitas, khususnya untuk lahan pangan dan permukiman.
Saat ini, kelas indeks rendah mendominasi di Kota Tangerang, dengan luasan terbesar berada di Kecamatan Pinang (1.737 Ha). Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan lahan di Pinang sudah kurang mampu memenuhi kebutuhan dasar penduduk.
"Kelas sangat rendah dengan luasan terbesar terdapat di Kecamatan Tangerang (211,50 Ha), menandakan kondisi lahan yang sangat kritis, dimana kebutuhan lahan jauh melebihi ketersediaan," imbuhnya.
Disampaikan Wawan, Kemampuan pemanfaatan lahan menunjukkan batas optimal wilayah dalam mendukung aktivitas manusia tanpa merusak lingkungan. Di Kota Tangerang, kapasitas lahan sudah terlampaui, mengganggu fungsi lingkungan seperti siklus hidrologi, kualitas tanah, dan fungsi ekologis kawasan lindung.
Status daya dukung dan daya tampung air juga menunjukkan hubungan antara ketersediaan air dan kebutuhan domestik di suatu wilayah, yang dipengaruhi oleh tutupan lahan dan jumlah penduduk. Kota Tangerang, dengan dominasi lahan terbangun seperti pemukiman, bangunan, dan infrastruktur, menunjukkan defisit air di sebagian besar Kecamatan.
"Kajian pada tahun 2023 menunjukkan bahwa dari 13 kecamatan di Kota Tangerang, hanya Neglasari dan Pinang yang masih memiliki surplus air. Sebelas Kecamatan lainnya mengalami defisit air," ungkapnya.
Lebih jauh, Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang memproyeksi daya dukung dan daya tampung air hingga tahun 2054, dengan menunjukkan bahwa ketersediaan air di Kota Tangerang menurun secara signifikan hingga mencapai 58,85%.
"Temuan ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air akibat perubahan tata guna lahan dan urbanisasi yang terus berlangsung. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya luas lahan terbuka yang berfungsi sebagai daerah resapan air," paparnya.
Oleh karena itu, perlu upaya dalam mengantisipasi kondisi ini, salah satunya dengan melakukan konservasi air yang sudah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang.
Adapun data konservasi air yang tersebar di seluruh Kota Tangerang dapat dilihat sebagai berikut :
1. Kolam Retensi dengan jumlah 4
2. Sumur Injeksi dengan jumlah 44
3. Sumur resapan dengan jumlah 175
4. Biopori super jumbo dengan jumlah 3140
"Untuk kolam retensi ada di lokasi Taman Cipulir Estate RW. 08, Cipadu Jaya sebanyak 2 kolam retensi dengan masing-masing 2 sumur injeksi, RW. 08 Cimone dan RW. 03 Panunggangan Utara," jelas Wawan.
Di musim penghujan saat ini, tambah Wawan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang mengimbau kepada masyarakat untuk dapat berperan aktif melakukan pencegahan banjir sejak dini di lingkungan.
"Diantaranya dengan cara bersih-bersih sampah, melakukan pembersihan selokan, memulai buat lubang biopori resapan, guna mencegah terjadinya banjir di lingkungan," tambahnya. (Ist).

